Bunda dan Ayah sedang berbicara serius tentang diriku, mereka berdua
sepakat untuk memasukkanku ke Asrama Muslimah, asrama ini adalah asrama
khusus Muslimah. Aku masih sangat bingung, memang, ini kesalahanku
sendiri. Aku masih jarang Shalat dan Mengaji, padahal umurku sudah 11
tahun. Sekarang, Aku hanya bisa pasrah saja, Aku juga ingin menjadi
pribadi yang lebih baik lagi.
“Bunda, Ayah… baiklah, Aku bersedia untuk masuk ke Asrama Muslimah, Tyra ingin mencoba berubah,” ujarku pada saat kami sarapan.
“Benarkah? Kamu sudah setuju?” tanya Bunda yang langsung mengalihkan perhatian dari sarapan paginya.
“Ya… Aku setuju,” jawabku.
Pagi itu pun Aku jalani dengan mengemas barang-barangku yang akan di
bawa ke asrama. Setelah beberapa pakaian dan alat-alatku yang kuperlukan
telah masuk ke dalam koper berukuran sedang milikku, Aku dan kedua
orang tuaku beserta adikku segera makan siang bersama.
“Tyra… kamu sudah bersiap-siap kan?” tanya Ayah, Aku mengangguk.
“Baju lengan panjang dan bukan celana ketat kan?” tanya adikku, Tara.
“Iyalah…” jawabku sedikit jengkel.
“Sudah… ayo kita langsung makan! Tyra, kamu kan mau beli jilbab dan alat
tulis lainnya kan?” ujar Ibu, Aku dan Tara langsung diam, lalu kami
semua segera makan siang dengan cukup lahap.
Setelah makan siangku habis, Aku segera memakai sepatuku dan menunggu Ayah di dalam mobil. Tak lama kemudian, Ayah pun datang.
“Sudah siap?” tanya Ayah.
“Sudah” jawabku singkat. Setelah membaca doa, kami berdua segera menuju Mall terdekat dari rumah kami.
Di tengah perjalanan, Ayah bercerita kepadaku tentang Asrama Muslimah yang akan menjadi tempat tinggalku yang kedua.
“Jadi Yah, kita harus disiplin setiap hari?” tanyaku, Ayah hanya
mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang lancar.
Perjalananku menuju Mall bersama Ayah sudah terlewati. Kami berdua
sudah sampai di Mall tersebut, sekarang, kami sedang menuju butik Muslim
langganan Bunda. Rencananya, kami akan membeli jilbab dan beberapa
aksesori jilbab untukku nanti, mulai lusa, Aku akan menjadi seorang
Muslimah yang akan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Tyra, kamu mau ditemani Ayah, atau Ayah tunggu di sini saja?” tanya Ayah sesampainya kami di depan butik Girls.
“Hmmm… Aku sendiri saja deh, Yah!” jawabku.
“Baiklah… silahkan” ujar Ayah, Aku hanya tersenyum lalu beranjak menuju
ke dalam butik. Setelah masuk ke dalam, Aku mencari bagian jilbab.
“Hmmm… warna jilbab yang ini… kan sama dengan bajuku!” ujarku ketika
melihat sebuah jilbab berwarna biru muda dengan hiasan bunga di ujung
jilbab tersebut. Aku pun memilih jilbab itu, dan itu adalah jilbab yang
pertama kali ku pilih. Untuk jilbab yang kedua dan seterusnya, Aku
memutuskan untuk memilih jilbab dengan banyak warna dan tidak terlalu
banyak hiasan.
Setelah cukup banyak jilbab yang Aku pilih dan kurasa cukup, Aku
segera beranjak menuju tempat aksesori. Sesampainya di tempat aksesori,
Aku melihat jajaran rak kecil yang berisi berbagai aksesori khusus
muslimah. Seperti pin, bross, atau aksesori jilbab lainnya. Aku
memutuskan untuk memilih beberapa bross berukuran kecil yang menurutku
lucu. Beberapa bross yang Aku pilih antara lain, bross berwarna merah
terang berbentuk kupu-kupu, bross berwarna hijau muda dengan bentuk daun
dan bross berwarna biru dengan bentuk bulat.
Waktu yang kuhabiskan untuk memilih jilbab dan aksesori memang cukup
memakan waktu, sampai akhirnya Aku dan Ayahku segera membayar seluruh
barang yang Aku beli dan segera beranjak menuju toko buku.
“Yah, kita ke toko buku ini saja!” ujarku sesampainya kami di depan sebuah toko buku yang baru di buka minggu lalu.
“Di sini lengkap?” tanya Ayah memastikan.
“Tentu!” jawabku. Ayah pun mengangguk tanda setuju, lalu, Aku
dipersilahkan kembali untuk memilih alat tulis yang akan sangat
kubutuhkan di asrama nanti.
Aku memilih beberapa pak buku tulis, pulpen, pensil, penghapus serta
penggaris. Serta beberapa alat tulis yang kubutuhkan lainnya. Setelah
Aku memilih alat tulis, Ayah segera membayar seluruh barang tersebut.
Setelah selesai, kami berdua segera pulang menuju rumah.
Di sepanjang perjalanan pulang kali ini, Aku mulai menyadari betapa
pentingnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimana bisa Aku
menolak untuk berubah jika itu demi kebaikanku sendiri. Mulai saat ini,
Aku meyakinkan dalam diriku, terutama hati kecilku untuk berubah,
berubah menjadi seorang yang lebih baik.
“Sayang… kita sudah sampai, ayo bangun…” ujar Ayah yang ternyata
berusaha membangunkanku. Aku baru sadar bahwa Aku tertidur. Dengan
segera, Aku bangun dari tidurku dan segera keluar dari mobil.
“Ayah… terima kasih ya, sudah mengantarku membeli alat-alat yang kubutuhkan…” ujarku ketika keluar dari mobil.
“Iya, sama-sama…” jawab Ayah seraya menampilkan senyumannya. Aku
membalas senyumnya, lalu ia pun beranjak menuju ke dalam rumah. Setelah
Ayah masuk, Aku segera beranjak menuju kamarku.
Sesampainya di kamar, Aku segera memasukkan barang-barang yang baru
ku beli ke dalam koperku. Setelah sudah, Aku memutuskan untuk membuka
laptopku. Aku melihat-lihat diaryku yang rutin ku tulis setiap hari,
namun sejak sebulan terakhir ini, Aku jarang mengisi diaryku. Beberapa
saat, Aku tertawa membaca tulisanku yang terlihat lucu atau malah sangat
tidak masuk akal. Banyak sekali keluh kesahku di sana, dari mulai Aku
sebal dengan adikku sampai saat Aku kagum dengan seseorang.
Setelah Aku merasa cukup puas membaca tulisan-tulisanku, Aku menutup
kembali laptop dan segera memasukkannya ke tempatnya kembali,
rencananya, laptop ini akan ku bawa ke asrama.
Hari demi hari berlalu, tak terasa sekarang Aku sudah berada di
asrama baruku. Aku sudah mulai masuk di sini dari kemarin, Aku sudah
mulai terbiasa dengan tata tertib dan kedisiplinan di asrama. Aku juga
sudah memiliki cukup banyak teman, hampir semuanya sama sepertiku, ingin
menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
“Mira, apa kamu sudah merasa menjadi pribadi yang baik?” tanyaku saat jam bebas.
“Hmmm… Aku belum tahu, biar tuhan yang menilai. Lagi pula, kita sebagai
manusia pasti selalu berbuat salah dan selalu ingin menjadi yang lebih
baik lagi,” jawab Mira, Aku hanya mengangguk tanda setuju. Lalu, Aku dan
Mira pun berencana untuk menuju ke perpustakaan yang berada di asrama.
Perpustakaan di asrama ini adalah salah satu tempat favoritku di sini.
Di perpustakaan ini, Aku sangat senang membaca cerita tentang para istri
Nabi Muhammad SAW. Aku juga banyak belajar tentang cara menjadi pribadi
yang lebih baik. Yang pasti… siap atau tidak siap kita menjadi seorang
muslim sejati, kita harus menjadi sosok yang baik, lebih baik, dan akan
terus menjadi baik.
Soal pribadi yang baik, kita memang tidak pernah bisa menilainya.
Terkadang, kita berbuat dosa tanpa kita sengaja. Terkadang, kita
menyakiti hati orang lain tanpa di sengaja. Oleh karena itu, teruslah
berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dan… lebih baik.
Cerpen Karangan: Fadillah Amalia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar